Berdasarkan satuan ukur konsentrasi zat pedas atau capcaisin yang disebut Scoville Heat Unit (SHU), cabai Katokkon ini memiliki tingkat kepedasan cukup tinggi, yaitu 400.000-600.000 SHU. Tingkat kepedasannya 4-6 kali lebih pedas dari cabai rawit.
Selain keunikan budaya dan keindahan alam yang dimiliki daerah Toraja, Sulawesi Selatan. Toraja juga terkenal cabai yang super-pedas.
Cabai adalah salah satu bumbu wajib di dapur masyarakat Indonesia, sebagai pendamping makanan pokok yang dapat meningkatkan selera makan. Bahkan saat ini bermunculan tren makanan dengan pilihan level kepedasan yang menjadi semakin populer.
Melansir laman BBP2TP Litbang Pertanian, salah satu cabai khas Indonesia dari Toraja yang belum banyak dikenal luas adalah cabai ketokkon
Katokkon dapat tumbuh di dataran tinggi, berkisar antara 1.000 hingga 1.500 mdpl, dan bisa tumbuh subur di daerah dengan cuaca dingin dan memiliki struktur tanah pegunungan.
Ciri khas cabai ini adalah memiliki bentuk bulat tak sempurna, agak mirip paprika tetapi kecil dan gemuk. Normalnya, ukuran katokkon sekitar 3-4 cm. Bila masih muda, cabai akan berwarna hijau keungunan dan berubah menjadi merah segar saat sudah matang.
Katokkon adalah cabai andalan masyakarat Suku Toraja, Sulawesi Selatan karena memiliki beberapa kandungan yang baik untuk tubuh manusia, dan rasanya lebih pedas dari cabai lainnya di Indonesia.
Cabai ini mengandung vitamin A, vitamin C, dan antioksidan yang dapat melindungi tubuh dari radikal bebas.
Berdasarkan satuan ukur konsentrasi zat pedas atau capcaisin yang disebut Scoville Heat Unit (SHU), cabai ini memiliki tingkat kepedasan cukup tinggi, yaitu 400.000-600.000 SHU. Tingkat kepedasannya 4-6 kali lebih pedas dari cabai rawit.
Panen pertama katokkon biasanya dilakukan setelah tanaman berusia 3-4 bulan setelah pindah tanam. Selama masa hidupnya, jumlah katokkon bisa mencapai 100-150 buah per pohon, setara dengan 0,8-1,2 kg cabai.
Pengembangan katokkon merupakan salah satu prospek yang cerah bagi para petani di Toraja. Harga Ketokkan bisa mencapai dua kai lipat harga cabai biasa. Bahkan pada musim menghujan, harganya bisa menembus ratusan ribu di pasaran.





