Member

News Feed
Recent Users
Recent Albums
No photos available
No photos available
Leaderboard

Recent Updates

Pinned Items
Recent Activities
  • TRIBUNTORAJA.COM, SESEAN - Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polsek Sesean menerima laporan pengaduan kehilangan satu unit mesin traktor yang sudah hilang sejak bulan Maret 2018.

    Mesin traktor itu milik Pemerintah Daerah Kabupaten Toraja Utara.
    Pelapor Alber Randa (27) menceritakan kejadian hilangnya mesin traktor di kebun milik warga Lembang (Desa) Landorundun, Kecamatan Sesean Suloara, Toraja Utara.

    "Menurut keterangan pelapor terjadi tindak pidana pencurian satu buah mesin traktor pengadaan dari Dinas Pertanian Toraja Utara," ujar petugas piket, Bripka Victor, Jumat (18/5/2018).

    Kata Bripka Victor, saat itu pelapor ingin mengambil traktor yang disimpannya di sawah warga yang selesai garap, setibanya di lokasi sudah mendapati mesin tersebut sudah hilang.

    "Sempat beberapa hari mencari mesin itu dibantu warga setempat namun sampai saat ini mesin traktor tidak ditemukan," tuturnya.

    Kasus ini sementara ditangani Polsek Sesean dan pelaku masih dalam penyilidikan.



     

    Read MoreRead full article
    1. View Post
    Post is under moderation
    Stream item published successfully. Item will now be visible on your stream.
  • Agung Salino uploaded 20 photos in the album Old Picture
    Post is under moderation
    Stream item published successfully. Item will now be visible on your stream.
  • Anda pasti tidak asing dengan Tana Toraja. Kabupaten yang terletak di Sulawesi Selatan ini terkenal dengan budayanya yang unik yang masih dipertahankan hingga sampai saat ini. Berjarak 7-8 jam perjalanan dari Makassar.

    Toraja sangat identik dengan budayanya yang unik. Anda harus mengunjungi destinasi unik berupa tebing yang berisikan mayat orang-orang yang sudah meninggal. Destinasi tersebut dikenal dengan Batu Lemo.

    Batu Lemo merupakan tempat persemayaman jenazah yang berbentuk lubang-lubang pada dinding cadas. Tempat ini sudah ada sejak abad ke-16. Lubang-lubang yang ada di dinding batu cadas tersebut merupakan hasil pahatan manusia sendiri untuk menyimpan jenazah orang yang sudah meninggal.

    Lemo terletak di desa Lembang, 12 kilometer ke selatan Rantepao atau 6 kilometer dari Makale. Nama Lemo berasal dari model liang pada batu tersebut yang berbentuk bundar dan berbintik-bintik menyerupai buah jeruk atau limau, oleh karena itu tempat tersebut dinamakan Lemo.

    Kuburan batu tersebut juga disebut dengan liang paa'. Ada sekitar 75 lubang pada dinding cadas. Beberapa liang tersebut memiliki patung-patung berjajar yang bernama tau-tau. Patung-patung tersebut merupakan sebuah lambang status sosial dan peran para jenazah selama masa hidupnya sebagai bangsawan.

    Destinasi kuburan unik ini sangat ramai dikunjungi oleh wisatawan sejak tahun 1960. Selain menyaksikan kuburan batu, wisatawan juga dapat membeli oleh-oleh berupa souvenir. Sepanjang kawasan kuburan batu tersebut ditumbuhi oleh tumbuhan buah pangi. Buah pangi dapat diolah menjadi makanan khas suku Toraja yang sering disebut pantollo pamarrasan.

    Jika Anda penasaran, maka Anda bisa datang ke sana. Selain hawa mistis, Anda akan berdecak kagum dengan fenomena yang ada di sana.


    Source: http://pesona.travel/artikel/di-balik-keindahan-batu-lemo-tana-toraja-
    Read full article
    1. View Post
    Post is under moderation
    Stream item published successfully. Item will now be visible on your stream.
  • LEMO TORAJA Anda pasti tidak asing dengan Tana Toraja. Kabupaten yang terletak di Sulawesi Selatan ini terkenal dengan budayanya yang unik yang masih dipertahankan hingga sampai saat ini. Berjarak 7-8 jam perjalanan dari Makassar. Toraja sangat identik dengan budayanya yang unik. Anda harus mengunjungi destinasi unik berupa tebing yang berisikan mayat orang-or...
    1. Continue Reading
    Post is under moderation
    Stream item published successfully. Item will now be visible on your stream.
  • Tana Toraja in South Sulawesi has a unique funeral tradition, with ceremonies reflecting a blend of grief and wealth. When a Torajan dies in Toraja land, family members of the deceased are required to hold a series of funeral ceremonies that usually last for several days before the deceased is brought to a funeral site for burial. The family of the deceased should provide tens of buffaloes and pigs for the ceremony.
    The busy scene begins when funeral visitors come and crowd the buffalo-slaughtering field. A group of funeral visitors and family members of the deceased chant a 'mournful tune' known locally as ma'badong, at packed site of the buffaloes' nemesis.
    The deceased is not buried immediately but stored in a traditional house - or Tongkonan, as locals call it - under the same roof with his or her kin. Torajans consider the person to be merely suffering from an illness and not truly dead until the moment his funeral when the first buffalo is sacrificed; then their spirit can begin its journey to the Land of Souls.
    The most exciting part of the ceremony is the buffalo fights and slaughter. Family members are required to slaughter buffaloes and pigs as they believe that the spirit of the deceased will live peacefully thereafter, continuing to herd the buffaloes that have come to join him or her.
    The buffalo fighting draws much attention from the locals and visitors who crowd to catch a glimpse. Cheering and applause is heard all around when the buffaloes are fighting. The fighting buffaloes are then slaughtered, and the meat distributed to the funeral visitors. Distribution is carried out in accordance to visitors' positions in the community, and the spirit of the deceased is also entitled to a portion of meat, known locally as Aluk Todolo. The heads of the buffaloes are returned to what is locally known as puya (a site for the soul or spirit of the dead person) and their horns placed in front of the house of the kin. The more horns that decorate the front of the house, the higher the status of the deceased.
    The body is not buried until the eleventh day of the ceremony. Following a birth ceremony for the dead person, characterized by the sounds of cries of family members, the deceased is buried - but not in the ground. The final resting placed is in a cave up on the cliff. 


    Source: http://id.indo.com/featured_article/tana_toraja.html
    Read full article
    1. View Post
    Post is under moderation
    Stream item published successfully. Item will now be visible on your stream.
Activities are currently restricted to members only.

Log in to see what's going on.
Unable to load tooltip content.

Member Login

Download Free Brochure